PENGALAMAN DIRI SENDIRI
Halo! Perkenalkan, aku seorang perempuan sederhana yang memulai perjalanan akademik dari sebuah SMK dengan jurusan Akuntansi. Waktu itu, banyak yang bilang, “Kalau anak SMK, biasanya langsung kerja aja.” Tapi dalam hati kecilku, aku tahu bahwa aku ingin melangkah lebih jauh.
Lulus dari SMK bukan akhir, justru titik awal dari perjalanan baru yang belum pernah aku bayangkan. Aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di STIE Tuah Negeri, mengambil jurusan Manajemen. Mungkin terlihat berbeda dari jurusan sebelumnya, tapi bagiku, ini adalah bagian dari proses menemukan versi terbaik dari diriku sendiri.
Awalnya sempat ragu—apakah aku bisa mengikuti ritme dunia perkuliahan? Apakah ilmu akuntansi yang aku pelajari di SMK bisa menjadi bekal? Jawabannya ternyata iya. Bahkan, pelajaran-pelajaran dasar akuntansi justru jadi keunggulanku di awal-awal perkuliahan. Aku merasa punya “modal” yang membuatku lebih percaya diri.
Sekarang aku sedang menjalani semester 4. Jujur, perjalanannya nggak selalu mulus. Ada tugas yang numpuk, presentasi yang bikin deg-degan, dan kadang juga rasa lelah yang datang tanpa diundang. Tapi semua itu aku anggap sebagai bagian dari pembentukan diri. Di sinilah aku belajar mengatur waktu, berpikir kritis, dan paling penting—belajar sabar dalam proses.
Salah satu hal yang aku pelajari adalah bahwa manajemen bukan sekadar teori bisnis, tapi juga tentang mengelola diri sendiri: bagaimana tetap tenang dalam tekanan, bagaimana menyusun rencana saat segalanya kacau, dan bagaimana tetap bergerak walau semangat kadang menipis.
Aku belum tahu akan jadi apa setelah lulus nanti—mungkin manajer keuangan, mungkin juga pengusaha kecil-kecilan, atau bahkan sesuatu yang belum pernah aku bayangkan. Tapi satu hal yang pasti: aku menikmati setiap langkah yang aku ambil saat ini. Karena aku percaya, perjalanan ini tidak akan mengkhianati usaha.
Kalau kamu yang baca ini sedang bingung tentang masa depan, aku cuma mau bilang: nggak apa-apa kalau kamu belum tahu tujuan akhirnya. Yang penting, terus berjalan. Karena jalan itu akan terbuka satu per satu, asal kamu berani melangkah.
Tapi hidup kuliah bukan cuma soal nilai, teori, dan tugas. Aku juga mulai sadar, bahwa dunia perkuliahan itu seperti taman luas—dan kita bebas memilih mau tumbuh di sudut mana. Dari situ, aku mulai memberanikan diri untuk ikut beberapa kegiatan di luar akademik, walaupun awalnya sempat ragu. Aku bukan tipe yang langsung percaya diri berdiri di depan orang banyak, tapi aku tahu, aku nggak akan berkembang kalau terus main aman.
Aku pernah ikut organisasi kampus, bantu-bantu di divisi humas. Dari situ aku belajar cara komunikasi yang lebih efektif, cara nyusun proposal kegiatan, bahkan cara menenangkan teman yang panik sebelum acara dimulai 😄. Lucunya, dari anak yang dulu suka bingung ngomong di depan kelas, sekarang aku bisa presentasi dengan lebih tenang—meski tetap deg-degan sedikit di awal.
Selain itu, aku juga ikut jadi panitia di beberapa kegiatan kampus, mulai dari seminar, pelatihan soft skill, sampai kegiatan bakti sosial. Rasanya seru banget bisa ketemu orang-orang dari jurusan lain, kerja sama, dan ngerasain suasana di balik layar sebuah acara. Capek sih, kadang sampai malam dan pulang bawa lelah. Tapi puasnya luar biasa.
Kegiatan-kegiatan ini bukan cuma nambah pengalaman, tapi juga bikin aku kenal lebih dekat dengan diriku sendiri. Aku jadi tahu kalau ternyata aku bisa handle tekanan, bisa kerja dalam tim, dan yang paling penting—aku bisa berkembang di luar ruang kelas.
Dan sekarang, walau jadwal kuliah makin padat di semester 4, aku tetap mencoba aktif sebisa mungkin. Karena aku percaya, pengalaman yang kita dapat di luar kelas itu sama berharganya dengan yang kita pelajari di dalam kelas. Bahkan kadang lebih.